Tiba-tiba Muki melepaskan
ciumannya. “May, aku ingin mencium susumu, bolehkan..” Tanpa berkata sedikit
pun aku membuka kancing kemejaku dan membuka kaitan BH yang kupakai. Terlihat
dua gundukan yang sedang mekar -mekarnya dan aku membiarkannya terpandang
sangat luas di depan mata Muki. Dan kulihat Muki begitu memperhatikan bentuk
bulatan yang ada di depan matanya. Memang susuku belum begitu tumbuh secara
keseluruhan, tapi aku sudah tidak sabar lagi untuk dicium oleh seorang lelaki.
“May, apa ini baru pertama kali ada yang memegang yang menciumi susumu,” bisik Muki.
“Iya, Muk, baru kamu yang pertama
kali, aku memberikan ke orang yang benar -benar aku inginkan,” balasku manja.
Tak lama kemudian, Muki dengan
lembutnya menciumi susuku dan memainkan lidahnya di seputar puting susuku yang
sedang keras. Aduh enak sekali rasanya. Inilah waktu yang tunggutunggu sejak
lama. Nafsuku langsung naik pada saat itu.
“Jangan berhenti Muk, teruskan
ya… aku enak sekali..” Dan tanganku pun dibimbing Muki untuk membuka
reitsleting celananya. Dan aku membukanya. Kemudian Muki mengajak pindah tempat
duduk dan kami pun pindah di tempat duduk belakang. Sepertinya di belakang kami
bisa dengan leluasa saling berpelukan. Baju kemejaku sudah dilepas oleh Muki
dan yang tertinggal hanya BH yang masih menggantung di lenganku. Reitsleting
celana Muki sudah terbuka dan tiba-tiba Muki menurunkan celananya dan terlihat
jelas ada tonjolan di dalam celana dalam Muki. Dan Muki menurunkan celana
dalamnya. Terlihat jelas sekali penis Muki yang besar dan berwarna kecoklatan.
Ditariknya tanganku untuk memegang penisnya. Dan aku tidak melepaskan
kesempatan tersebut. Muki masih terus menjilati susuku dan sekali-kali Muki
menggigit puting susuku.
“Muk, teruskan ya… jilat aja Muk,
sesukamu..” desahku tak karuan.
Sementara aku masih terus
memegang penis Muki. Dan sepertinya Muki makin bernafsu dengan permainan
seksnya. Akhirnya Muki sudah tidak tahan lagi.
“May, kamu isap punyaku ya… mau
nggak?”
“Isap bagaimana..”
“Tolong keluarin punyaku di
mulutmu.”
Sebenarnya aku masih bingung,
tapi karena penasaran apa yang dimaui Muki, maka aku menurut saja apa
permintaannya. Dan Muki merubah posisi duduknya, Muki menurunkan kepalaku
hingga aku berhadapan langsung dengan kepunyaan Muki.
“Muk, besar sekali punyamu.”
“Langsung aja may, aku sudah
tidak tahan..”
Aku langsung mengulum pelan-pelan
kepunyaan Muki. Inilah pertama kali aku melihat, memegang dan mengisap dalam
satu waktu. Aku menjilati dan kadang kutarik dalam mulutku kepunyaan Muki.
Sekali-kali kujilati dengan lidahku. Dan sekali-kali juga kujilati dan kuisap
buah kepunyaan Muki. Aku memang menikmati yang namanya penis. Mulai dari atas
turun ke bawah. Dan kuulangi lagi seperti itu. Dan kepala penis kepunyaan Muki
aku jilatin terus. Ah… benar-benar nikmat.
Sekitar lima menit aku menikmati
permainan punya Muki, tiba-tiba, Muki menahan kepalaku dan menyuruhku mengisap
lebih kuat. “Terus May, jangan berhenti, terus isap yang kuat, aku sudah tidak
tahan lagi..” Dan tidak lama setelah itu, Muki mengerang keenakan dan tanpa
sadar, keluar cairan berwarna putih dari penis Muki. Apakah ini yang namanya
sperma, pikirku. Dalam keadaan masih keluar, aku tidak bisa melepaskan penis
Muki dari mulutku, aku terus mengisap dan menyedot sperma yang keluar dari
penis Muki. Ah… rasa dan aromanya membuatku ingin terus menikmati yang namanya
sperma. Aku pun tidak bisa melepaskan kepalaku karena ditahan oleh Muki. Aku
terus melanjutkan isapanku dan aku hanya bisa melebarkan mulutmu dan sebagian
cairan yang keluar tertelan di mulutku. Dan Muki kelihatan sudah enak sekali
dan melepaskan tangannya dari kepalaku.
“May, aku sudah keluar, banyak
ya..”
“Banyak sekali Muk, aku tidak
sanggup untuk menelan semuanya, karena aku belum biasa.”
“Tidak apa-apa May..”
Kemudian Muki mengambil cairan
yang terbuang di sekitar penisnya dan menaruh ke susuku. Aku pun memperhatikan
kelakuan Muki. Dan Muki mengelus-elus susuku. Akhirnya jam sudah tepat jam 11
malam. Dan aku diantar oleh Muki tepat jam 11 lewat 35 menit. Karena besoknya
kami berjanji akan ketemu lagi. Malamnya entah mengapa aku sangat sulit sekali
tidur. Karena pengalamanku yang pertama membuatku penasaran, entah apa yang
akan kulakukan lagi bersama Muki esoknya.Dan, malam itu aku masih teringat akan
penis Muki yang besar dan aroma sperma serta ingin rasanya aku menelan sekali
lagi. Ingin cepat-cepat kuulangi lagi peristiwa malam itu.
Besoknya dengan alasan ada
pertemuan panitia perpisahan, aku akhirnya bisa keluar rumah.Akhirnya sesuai
jam yang sudah ditentukan, Muki menjemputku dan Muki membawaku ke suatu tempat
yang masih teramat asing buatku.
“Tempat apa ini Muk,” tanyaku.
“May, ini tempat kencan, daripada
kita kencan di mobil lebih bagus kita ke sini aja, dan lebih
aman dan tentunya lebih leluasa.
Kamu mau.”
“Entahlah Muk, aku masih takut
tempat seperti ini.”
“Kamu jangan takut, kita tidak
keluar dari mobil. Kita langsung menuju kamar yang kita pesan.”
Dan sampai di garasi mobil, kami
keluar, dan di garasi itu hanya ada satu pintu. Sepertinya pintu itu menuju ke
kamar. Benar dugaanku. Pintu itu menuju ke kamar yang sudah dingin dan nyaman
sekali, tidak seperti yang kubayangkan. Terlihat ada kulkas kecil, kamar mandi
dengan shower, dan TV 21, dan tempat tidur untuk kapasitas dua orang.
“Maya, kita santai di sini aja
ya… mungkin sampai sore atau kita pulang setelah magrib nanti, kamu mau..”
pinta Muki.
“Aku setuju saja Muk, terserah
kamu.”
Setelah makan siang, kami
ngobrol-ngobrol dan Muki membaringkan badanku di tempat tidur. “May, kamu mau
kan melakukannya sekali lagi untukku.” Aku setuju. Sebenarnya inilah yang
membuatku berpikir malamnya apa yang akan kami lakukan berikutnya. Muki berdiri
di depanku, dan melepaskan kancing kemejanya satu persatu, dan membuka celana
panjang yang dipakainya. Terlihat sekali lagi dan sekarang lebih jelas lagi
kepunyaan Muki daripada malam kemarin. Ternyata kepunyaan Muki lebih besar dari
yang kubayangkan. Dan, dalam sekejap Muki sudah terlihat bugil di depanku. Muki
memelukku erat-erat dan membangunkanku dari tempat tidur. Sambil mencium
bibirku, Muki menarik ke atas baju kaos ketat yang kupakai. Dan memelukku
sambil melepaskan ikatan BH yang kupakai. Dan pelan-pelan tangan Muki mengelus
susuku yang sudah keras. Dan lama -kelamaan tangan Muki sudah mencapai
reitstleting celanaku dan membuka celanaku. Dan menurunkan celana dalamku. Aku
masih posisi berdiri, dan Muki jongkok tepat di depan vaginaku. Muki
memandangku dari arah bawah. Sambil tangannya memeluk pahaku.























0 komentar: